Mojokerto.web.id - Rutinitas Warga Kedungkwali, Kelurahan Miji Menyambut Ramadan. Mamasuki bulan Ramadan bagi umat muslim memang identik dengan nyekar atau berkirim doa di depan makam leluhur, orang tua atau keluarga yang mendahului. Dengan membawa bunga dan perangkat nyekar, umat muslim biasanya mendatangi makam bersama sanak keluarga dan kerabat.
Tetapi, bagi warga lingkungan Kedungkwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, rutinitas menyongsong bulan suci Ramadan itu tak sekadar berkirim doa dan menabur bunga. Minggu (8/8), pagi mereka berbondong-bondong menuju area tempat pemakaman umum (TPU) milik lingkungan Kedungkwali di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Selain mengendarai motor dan sepeda angin merekapun menyertakan beberapa mobil untuk memboyong warga yang sebagian diantaranya dikenal sebagai pengusaha dan perajin alas kaki. Memang, tidak kebanyakan makam pada umumnya, selama ini warga Kedungkwali yang meninggal dunia selalu dimakamkan di Dusun Losari yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari perumahan warga.
Sesampainya di area makam, warga yang berasal dari Kedungkwali Gang 1 hingga Kedungkwali Gang IX itu tak lantas berkirim doa, namun mengawali dengan kerja bakti bersih-bersih kawasan makam. Dari mengecat tembok atau kijing, memangkas tumbuhan diatas makam, hingga menulis kembali nama arwah pada batu nisan.
Untuk menjaga kebersihan, sampah atau ilalang di sekitar makam pun dibakar warga. Yang menarik kerja bakti itu tidak hanya diikuti orang dewasa, melainkan anak-anak dibawah umur yang antusias menyambut. ''Kerja bakti seperti sudah menjadi rutinitas warga menjelang Ramadan. Disamping berkirim doa kita juga membersihkan area makam bersama,'' ujar Ketua Panitia, Samsul Hadi Arqom sekaligus Ketua Remaja Musala Al-Umariyah Kedungkwali Gang 9.
Untuk memudahkan kerja bakti, warga juga membawa peralatan sejak dari rumah. Seperti cangkul, gergaji, sabit, dan perangkat mengecat. Maka tidak heran, meski bukan makam keluarga, kebersamaan dengan saling membantu selama kerja bakti itu cukup tampak. ''Semua makam disini kami anggap keluarga dan leluhur kita. Istilahnya tidak ada keluarga dia atau mereka, semua kami anggap saudara,'' papar Arqom.
Rutinitas yang kini sudah menjadi adat warga Kedungkwali jelang Ramadan rupanya berlangsung sejak puluhan tahun. Tepatnya, mulai tahun 1991. Saat itu tokoh masyarakat dan para tokoh agama sepakat menjadikan ziarah sekaligus sebagai ajang kerja bakti masal.
''Kami juga ingin mengenalkan keluarga dan para leluhur pada anak-anak dan generasi muda. Paling tidak, mereka terbiasa mendoakan keluarga dan orang tua. Termasuk tidak meninggal kebiasaan ziarah ke makam,'' jelas Ketua Takmir Musalla Al-Umariyah, Mustofa Wachid.
Keakraban warga tidak saja diungkapkan dengan kebersamaan kerja bakti. Dermawan termasuk mereka yang dianggap mampu secara ekonomi tidak segan-segan mengirimkan bantuan makanan dan minuman. Baik berupa buah-buahan, tumpeng, sampai makanan ringan.
Tak urung, begitu kerja bakti tuntas, wargapun menyantap makanan dan minuman yang sudah tersedia disaat jam istirahat. ''Untuk pengecatan dan bersih-bersih area makam warga juga banyak dibantu donatur. Termasuk nanti disumbangkan kepada penunggu dan perawat makam milik warga Kedungkwali ini,'' papar pengusaha alas kaki ini.
Sebagai pemungkas kerja bakti warga lantas berkumpul. Bahkan, sengaja memilih berada didepan makam keluarga masing-masing untuk memanjatkan doa dan pembacaan tahlil bersama. Seperti biasanya doa lantas dipimpin oleh Ibnu Samsuri, mudin setempat.
Dengan bantuan pengeras suara, semua warga tampak khusuk mendoakan keluarga mereka. Tidak jarang, ada yang meneteskan air mata memohon ampunan kepada Allah SWT bagi almarhum-almahurmah. ''Harapan kami rutinitas seperti ini dapat berlangsung terus menerus. Selain mendoakan keluarga, sedianya bisa memberikan pendidikan positif bagi anak-anak dan generasi muda. Agar mereka tidak mudah melupakan para leluhur dan orang tua yang sudah meninggal,'' tukas Lurah Miji, Pramudya Lesmana yang berkesempatan hadir pagi itu. (yr/c3) (jawapos.co.id)
Tetapi, bagi warga lingkungan Kedungkwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, rutinitas menyongsong bulan suci Ramadan itu tak sekadar berkirim doa dan menabur bunga. Minggu (8/8), pagi mereka berbondong-bondong menuju area tempat pemakaman umum (TPU) milik lingkungan Kedungkwali di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Selain mengendarai motor dan sepeda angin merekapun menyertakan beberapa mobil untuk memboyong warga yang sebagian diantaranya dikenal sebagai pengusaha dan perajin alas kaki. Memang, tidak kebanyakan makam pada umumnya, selama ini warga Kedungkwali yang meninggal dunia selalu dimakamkan di Dusun Losari yang jaraknya sekitar 4 kilometer dari perumahan warga.
Sesampainya di area makam, warga yang berasal dari Kedungkwali Gang 1 hingga Kedungkwali Gang IX itu tak lantas berkirim doa, namun mengawali dengan kerja bakti bersih-bersih kawasan makam. Dari mengecat tembok atau kijing, memangkas tumbuhan diatas makam, hingga menulis kembali nama arwah pada batu nisan.
Untuk menjaga kebersihan, sampah atau ilalang di sekitar makam pun dibakar warga. Yang menarik kerja bakti itu tidak hanya diikuti orang dewasa, melainkan anak-anak dibawah umur yang antusias menyambut. ''Kerja bakti seperti sudah menjadi rutinitas warga menjelang Ramadan. Disamping berkirim doa kita juga membersihkan area makam bersama,'' ujar Ketua Panitia, Samsul Hadi Arqom sekaligus Ketua Remaja Musala Al-Umariyah Kedungkwali Gang 9.
Untuk memudahkan kerja bakti, warga juga membawa peralatan sejak dari rumah. Seperti cangkul, gergaji, sabit, dan perangkat mengecat. Maka tidak heran, meski bukan makam keluarga, kebersamaan dengan saling membantu selama kerja bakti itu cukup tampak. ''Semua makam disini kami anggap keluarga dan leluhur kita. Istilahnya tidak ada keluarga dia atau mereka, semua kami anggap saudara,'' papar Arqom.
Rutinitas yang kini sudah menjadi adat warga Kedungkwali jelang Ramadan rupanya berlangsung sejak puluhan tahun. Tepatnya, mulai tahun 1991. Saat itu tokoh masyarakat dan para tokoh agama sepakat menjadikan ziarah sekaligus sebagai ajang kerja bakti masal.
''Kami juga ingin mengenalkan keluarga dan para leluhur pada anak-anak dan generasi muda. Paling tidak, mereka terbiasa mendoakan keluarga dan orang tua. Termasuk tidak meninggal kebiasaan ziarah ke makam,'' jelas Ketua Takmir Musalla Al-Umariyah, Mustofa Wachid.
Keakraban warga tidak saja diungkapkan dengan kebersamaan kerja bakti. Dermawan termasuk mereka yang dianggap mampu secara ekonomi tidak segan-segan mengirimkan bantuan makanan dan minuman. Baik berupa buah-buahan, tumpeng, sampai makanan ringan.
Tak urung, begitu kerja bakti tuntas, wargapun menyantap makanan dan minuman yang sudah tersedia disaat jam istirahat. ''Untuk pengecatan dan bersih-bersih area makam warga juga banyak dibantu donatur. Termasuk nanti disumbangkan kepada penunggu dan perawat makam milik warga Kedungkwali ini,'' papar pengusaha alas kaki ini.
Sebagai pemungkas kerja bakti warga lantas berkumpul. Bahkan, sengaja memilih berada didepan makam keluarga masing-masing untuk memanjatkan doa dan pembacaan tahlil bersama. Seperti biasanya doa lantas dipimpin oleh Ibnu Samsuri, mudin setempat.
Dengan bantuan pengeras suara, semua warga tampak khusuk mendoakan keluarga mereka. Tidak jarang, ada yang meneteskan air mata memohon ampunan kepada Allah SWT bagi almarhum-almahurmah. ''Harapan kami rutinitas seperti ini dapat berlangsung terus menerus. Selain mendoakan keluarga, sedianya bisa memberikan pendidikan positif bagi anak-anak dan generasi muda. Agar mereka tidak mudah melupakan para leluhur dan orang tua yang sudah meninggal,'' tukas Lurah Miji, Pramudya Lesmana yang berkesempatan hadir pagi itu. (yr/c3) (jawapos.co.id)





0 komentar:
Poskan Komentar
Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !