Oleh-oleh Santri Al-Multazam Road to Singapore

18/07/10
Mojokerto.web.id - Oleh-oleh Santri Al-Multazam Road to Singapore. Belajar Bahasa Inggris Diberi Materi Main Game

Perjalanan santri Al-Multazam Road to Singapore sepertinya lebih banyak dimanfaatkan mengasah ilmu. Setelah melepas kepenatan sambil membaca buku National Library perpusatakaan terbesar di Singapura, keesokan harinya mereka harus kembali belajar di Bristol Business School.

MOCH CHARIRIS, Mojokerto

---

SEPERTI hari sebelumnya untuk membedakan tingkat satuan pendidikan atau level, 20 peserta yang tergabung dalam ACRAB (Al-Multazam Community Road to abroad) membagi dalam dua kelas. Masing-masing untuk level MTs dan SMA. Sri Dewi Nur Atika menuturkan, pada hari Jumat (2/7) dia bersama temannya bersekolah lagi. Setelah matematika dan science kali ini mereka mengikuti pelajaran bahasa Inggris.

''Pelajaran bahasa Inggris hari itu sangat seru, karena pelajar dituntut aktif dengan macam-macam metode,'' ujar Atika, siswa kelas XI SMA Al-Multazam. Yang membedakan dengan kelas reguler pada umumnya di Indonesia, selain siswa diminta aktif dan kreatif mereka satu ruang bersama siswa asal negara-negara lain seperti Vietnam, Taiwan, Thailand.

Atika mengaku, bila proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di Indonesia khususnya Mojokerto, ketegangan siswa saat mendengar penjelasan guru kerap dirasakan. Bahkan, di saat mata pelajaran tertentu, selalu bersikap serius. Karena takut ketinggalan atau tidak paham. Tetapi, di Bristol Business School, lanjut Atika, mengikuti pelajaran bahasa Inggris seperti mengikuti sebuah permainan.

Belajar bahasa Inggris di sana tidak saja mendengar keterangan, melainkan ada game-game yang juga berhubungan dengan pelajaran tersebut. ''Dengan begitu pelajar tidak merasa bosan. Perlakuan bahasa Inggris dengan game-game tertentu kira-kira hampir sama dengan di pondok waktu student day tiap Jumat,'' jelasnya.

Mengikuti KBM di Singapura, bagi santri Al-Multazam memang cukup mengesankan. Disamping nyaman dan betah di ruang kelas, pendidikan psikologis antara siswa dan guru secara tidak langsung terjalin. Seperti halnya, guru bisa membuat murid bersikap aktif dan terbuka terhadap semua hal. Baik di dalam maupun di luar pelajaran. ''Nampaknya kesan komunikasi dan keterbukaan itu yang biasa diterapkan pada KBM di sana," tambah Atika.

Teman Atika, Putri menceritakan, pada hari sebelumnya, setelah puas mengikuti KBM kurang lebih selama 4 jam, mereka lantas mendalami keunggulan keindahan Singapura. Tak lupa tempat ibadah dan kebudayaan umat Islam. Salah satunya adalah menyempatkan diri mampir di pusat kebudayaan melayu dan salat di Masjid Kesultanan.

Masjid indah nan megah itu terlihat sangat bagus karena melestarikan originalitas arsitektur bentuk aslinya. ''Masjid ini bersebelahan dengan Malay Heritage Center,'' kata pemilik nama lengkap Fatma Putri Zulfani. Tujuan terakhir hari itu lanjut adalah Safari Night. Seperti namanya, Safari Night merupakan perjalan malam hari untuk melihat pertunjukan hewan malam dan atraksi-atraksi lainnya yang pengaturannya cukup bagus.

''Memang acara tiap hari begitu padat. Jam 7 pagi kami sudah sarapan dan siap-siap berangkat. Waktu di Singapura lebih maju satu jam di banding Indonesia, sehingga jam 7 pagi di sana sama dengan jam 6 pagi di sini," bebernya.

Perjalanan mengunjungi tempat wisata seperti terus berlanjut keesokan hari. Diceritakan Putri, selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Merlion Park dan Marina Bay Sands. Tempat yang selalu dikunjungi para wisatawan setiap mereka berada di Singapura. Setelah beberapa jam kemudian, perjalanan dilanjutkan ke pulau sentosa untuk berwisata macam-macam objek, sembari merasakan makan malam di restoran pinggir pantai.

''Kami juga mengunjungi Singapore Gallery yang menceritakan perjalanan sejarah Singapura dari masa ke masa," katanya. Di akhir acara di Pulau Sentosa adalah menonton song of the sea, pertunjukan yang sangat direkomendasikan. Hiburan Song of the Sea ini melibatkan teknologi canggih dengan entertainment yang sangat bagus. ''Konon perancang hiburan ini adalah anak Medan," ceritanya.

Kepala SMA Al-Multzama, Indriyati Adawiyah menjelaskan, selain baru kali pertama liburan sekolah keluar negeri, liburan sekolah itu juga memberi pelajaran baru bagi para santri. ''Biar pun belajar di dalam pesantren, tapi mereka kami minta tidak lupa untuk membekali dengan pengalaman international langsung di suatu negara yang tingkat pendidikannya lebih baik," ungkapnya.

Ketua PC Fayatayat NU itu berharap, sekembalinya ke tanah air agar wawasan pelajar tidak bersifat lokal (domestik) tetapi mengetahui dan paham pengetahuan tingkat global. Serta mengalami belajar sekolah yang betul-betul international. ''Sehingga siswa tidak hanya pandai ilmu agama tapi juga memahami kondisi umum dan global. Dengan kata lain jadilah manusia yang pandai (Al-Dien) tapi juga intelek wawasannya," papar Indri. (yr) (jawapos.co.id)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



1 komentar:

buday mengatakan...

maju terusss...tapi sekali kali dgn fotonya dong

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman