Desa Kemantren Gedeg, Sulap Sampah Jadi Rezeki

24/06/10
Mojokerto.web.id - Melihat Desa Ramah Lingkungan, Sulap Sampah Jadi Rezeki. Dulu Meresahkan, Kini Datangkan Rupiah

Oleh sebagian masyarakat sampah dianggap barang tak berharga dan mendatangkan segala macam penyakit. Tapi bagi warga Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, sampah disulap menjadi komiditi yang mendatangkan keuntungan.

MOCH. CHARIRIS, Mojokerto

---

DUA orang ibu rumah tangga itu tampak sibuk mempersiapkan bahan hiasan yang terbuat dari berbagai macam sampah plastik. Ada yang menyiapkan benang, ada pula yang sedang memadukan antara bahan satu dengan bahan yang lain untuk dibentuk berbagai macam aksesoris yang memiliki nilai tinggi. Seperti tas, dompet, tempat pensil, taplak meja.

Kedua tangan mereka tanpa henti membentuk barang yang sudah direncanakan. Sementara, sorotan mata mereka tampak fokus memperhatikan bahan plastik yang layak digunakan dan tidak. Tidak hanya dua ibu itu. Di dalam ruang tamu rumah di Lingkungan RT 16/RW 4 Dusun Kangkungan, Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, seorang ibu lagi terlihat sibuk menyiapkan bahan baku yang akan digunakan dua ibu rumah tangga sebelahnya.

Namun, saat diamati, bahan-bahan yang dibedakan dalam kardus-kardus air mineral dan mi instan bukan hasil pembelian di sebuah toko aksesoris. Melaikan, hasil memanfaatkan sampah dan barang-barang bekas yang bercecer di lingkungan itu.

Belakangan masalah sampah, pernah membuat resah warga di lingkungan ini. Betapa tidak, karena mereka tidak memiliki lahan untuk dijadikan tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Sedangkan TPA darurat satu-satunya milik salah satu warga, sudah lama telah dututup pemiliknya. Alasannya, sampah rumah tangga itu menimbulkan bau tak sedap.

Begitu pun dengan lahan milik desa yang akhirnya dijadikan TPA. Ternyata, lahan itu butuh penataan yang ekstra hingga mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Sementara sampah-sampah rumah tangga itu terus menggunung menunggu solusi. ''Agar di lahan ini tak menumpuk sampah, kami akhirnya berpikir untuk memilah sampah-sampah itu,'' ungkap Kades Kemantren, Ramli Sunardi.

Daur ulang itu diberlakukan untuk sampah jenis plastik dan sampah yang bisa diuraikan. Praktis, dengan dua solusi itu sedikit demi sedikit menjawab persoalan sampah di wilayahnya. ''Kami juga membuat komposter di masing-masing rumah warga. Sementara untuk sampah plastik, ada petugas yang memunguti," tukasnya.

Model pengelolaan sampah seperti ini mengubah drastis pola hidup warga setempat. Warga yang sebelumnya lebih memilih membuang sampah di Sungai Brantas dan selokan, kini mereka tertib membuang sampah di tabung komposter dan tas plastik khusus sampah palstik. ''Dan lingkungan kami menjadi bersih, bebas sampah,'' katanya.

Khusus untuk sampah plastik, ada kelompok tersendiri yang mengelolanya. Dibawah naungan Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Karya Bersama, sampah-sampah itu disulap menjadi berbagai jenis produk yang bernilai ekonomis. ''Sudah dua bulan ini kami membuat berbagai produk dari sampah plastik," terang Anis Hariyanti.

Istri Sunardi inilah yang merancang berbagai produk yang berbahan baku sampah palstik. Mulai dari bungkus mi goreng, minyak goreng, pewangi, sabun dan jenis kemasan plastik lainnya. Sampah-sampah itu disulap menjadi tas, dompet, tempat pensil, taplak meja dengan harga yang bervariatif. ''Mulai harga Rp 3 ribu-Rp 20 ribu per buah, tergantung bahan dan tingkat kesulitannya," paparnya.

Sedikitnya ada enam orang yang dipekerjakan untuk menyulap sampah-sampah itu menjadi barang layak jual. Baik mereka yang khusus menjahit, membuat pola hingga yang sekadar membersihkan sampah agar layak menjadi bahan baku. ''Rata-rata pembelinya warga sekitar. Tapi banyak juga dari warga lain,terutama saat pameran,'' ungkapnya.

Hasil usaha ini kata dia, akan dikembalikan kepada warga dalam bentuk kegiatan sosial. Karena menurutnya, daur ulang sampah ini bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Lebih dari itu, untuk memecahkan masalah sampah yang sempat membingungkan warganya. ''Hasil penjualan ini kami kumpulkan. Dan nantinya dikelola oleh LKM," tukasnya.

Dia yakin, dengan sinergisnya masyarakat dengan LKM yang mengelola sampah rumah tangga, tak akan ada lagi masalah sampah. Sejak daur ulang sampah ini diberlakukan, kebersihan lingkungan desanya bisa terwujud. Dan terpenting kata dia, muncul kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan. ''Kami tak pernah capek menyosialisasikan pemilahan sampah untuk kepentingan daur ulang ini. Demi masyarakat dan lingkungan," ujar ibu berusia 42 tahun ini. (yr)(jawapos)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman