Melihat Budidaya Jamur Tiram di Desa Sooko, Mojokerto

25/05/10
Mojokerto.web.id - Melihat Budidaya Jamur Tiram di Desa Sooko, Mojokerto. Diminati Karena Non-Kolesterol meski Terkendala Cuaca

Budidaya jamur tiram rupanya tak hanya bisa dilakukan di kawasan pegunungan. Dataran rendah seperti kawasan Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto pun bisa dimanfaatkan. Seperti yang kini dilakoni pasangan suami istri Heri Prayitno dan Siti Maisaroh.

MOCH. CHARIRIS, Mojokerto

---

TANAH kawasan Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto kemarin siang terlihat basah. Genangan air, becekan jalan dan halaman rumah warga terlihat di sana-sini. Itu setelah hujan yang turun selama satu jam seakan mendinginkan suasana di kawasan tersebut.

Beberapa warga yang mulai menghentikan aktivitas kerjanya dan memilih untuk membersihkan rumah dan pelataran. Maklum, belakangan di desa tersebut mayoritas warga mempunyai usaha dan kerajinan sendiri-sendiri. Diantaranya tekstil, konveksi, alas kaki hingga sablon dan bordir.

Namun, tidak semua warga mendirikan usaha dalam bidang aksesoris. Di Lingkungan Mangelo Tengah, pasangan Heri Prayitno, 40 dan Siti Maisaroh justru memilih usaha berbeda. Yakni budidaya jamur tiram jenis salju. ''Ini tadi jam satu (siang) barusan panen,'' ungkap Maisaroh yang ditemui ditempat budidaya jamur.

Karena membutuhkan tempat dan lahan khusus, budidaya jamur yang sudah berjalan selama tiga bulan ini terpisah dengan rumah miliknya. Di tanah kosong seluas 6 meter x 12 meter, bahan bangunan 100 persen terbuat anyaman bambu didirikan. Atap bangunan itu menggunakan genting biasa. ''Sengaja mendirikan tempat seperti ini karena jamur tidak boleh terkena panas matahari dan air hujan langsung," terang Maisaroh sembari memetik jamur yang sudah layak panen.

Meski berdinding anyaman bambu (gedhek), untuk mengatur suhu dan cuaca pasangan Heri Prayitno dan Siti Maisaroh ini tetap membutuhkan penutup berbahan terpal. ''Kalau terlalu lembab juga tidak bagus. Pertumbuhan jamur tiram sendiri tetap membutuhkan cahaya matahari,'' papar ibu satu anak ini.

Siti menceritakan, untuk mengawali budidaya jamur, dibutuhkan 3.500 log (bungkus) berisi ampas kayu (serpihan potongan kayu) dan spora atau biasa disebut bibit jamur. Satu log berat ampas kayu dan spora masing-masing diperkirakan mencapai 1 kilogram. Sebagai jalan pertumbuhan jamur, di salah satu sudut log, dipasang kunci jamur mirip lubang botol.

''Itu untuk membantu proses produksi jamur yang keluar dari masing-masing log," papar perempuan berjilbab ini. Proses peletakan log sendiri kata Siti, tidak boleh sembarangan. Menggunakan tempat khusus terbuat dari bambu yang ditata menyerupai tangga, ribuan log lantas ditata rapi sejajar. Sedangkan untuk memudahkan perawatan dan panen, di sela-sela barisan log itu sengaja disediakan jarak selebar 50 sentimeter. ''Jika cuaca sedang panas, sela-sela itu kami siram (dibasahi, Red) 2-3 kali dalam sehari," tuturnya.

Selama ini proses budidaya yang dilakukan memang cenderung sederhana. Meski membutuhkan tempat khusus, tapi tidak diperlukan pupuk atau zat kimia yang mengeluarkan banyak kocek. ''Hanya dibutuhkan sirkulasi saja. Kalau dataran rendah seperti di Desa Sooko ini suhu harus berada dibawah 25-28 derajat celsius. Tidak boleh dari itu. Sebab akan berpengaruh pada hasil pertumbuhan jamur," paparnya.

Senada juga disampaikan, Heri Prayitno. Suami Siti Maisaroh ini mengaku, hasil budidaya tanaman jenis sayur yang dijalani itu sudah memberikan kontribusi positif bagi keluarganya. Setiap hari dia berhasil memanen jamur tiram yang rasanya lunak dan kenyal sampai 10-13 kilogram. ''Satu kilonya dijual dengan harga Rp 8 ribu,'' katanya.

Karena sudah mempunyai pelanggan, selama ini Heri cukup memasarkan jamur budidaya miliknya di Pasar Tradisional Tanjung Anyar Kota Mojokerto. ''Biasa kemampuan satu lognya dapat menghasilkan 8 ons per empat bulan. Artinya, kalau 1.000 log kami bisa menjual 5 kuintal per empat bulan," paparnya.

Sama halnya usaha atau kerajinan yang lain, bisnis budidaya jamur Heri Prayitno juga mempunyai kendala. Salah satunya pertumbuhan spora dalam log tidak berproduksi maksimal. ''Ciri-ciri log yang tidak produktif, biasa ampas kayu berwarna hitam. Kalau ditotal dari 3.500 log ada sekitar 100 log yang tak produktif karena terserang hama," imbuhnya.

Disamping itu, sebagai budidaya jamur tiram, dia dituntut jeli mengatur suhu yang tidak menentu seperti saat ini. Jika sedang turun hujan, suhu dalam ruang budidaya tidak boleh terlalu basah. Sedangkan, pada saat panas, dalam lokasi budidaya harus aktif dibasahi. ''Sebenarnya jamur seperti ini juga rentan dengan hama. Tapi alhamdulillah sampai sekarang belum ada," tukasnya.

Agar menghasilkan jamur yang sehat dan berkualitas, selama empat bulan sekali dia harus mengganti ribuan log yang dibelinya dari salah satu pembibitan jamur di Pacet. Sebab, usia log produktif jamur itu maksimal 4 bulan. ''Jika lewat empat bulan volume produksi akan menurun. Makanya harus diganti pada waktunya," tegasnya. Namun, dari beberapa kendala itu, Heri mengaku prospek pasar dan permintaan jamur dipasaran cukup baik.

Alasannya, selain untuk sajian menu rumah tangga, depot dan rumah makan, jamur tiram berjenis salju itu banyak dimanfaatkan sebagai menu alternatif. Terutama konsumen yang mengalami kolesterol tinggi akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan berlemak. ''Jamur tiram ini bisa sebagai menu alternatif bagi mereka yang kolesterolnya tinggi. Sehingga, dapat mencegah konsumen terkena penyakit jantung," ujarnya. (yr) (jawapos.co.id)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



2 komentar:

MOH.HAJIN mengatakan...

Lebih afdhol kalau ada kalkulasinya,jadi tahu berapa untung ruginya.Pertimbangan kondisi daerah peminat, dapat diperhitungkan sebelum melangkah lebih lanjut.Terima kasih.

Anonim mengatakan...

sy ipan,dsn centong.butuh jmr tiap hari 80kg;hp;081225111842/085730767607

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman