Komunitas Chopper Bicycle Mojokerto

08/05/10
Komunitas Chopper Bicycle Mojokerto. Jauhi Narkoba, Bermodal Inspirasi, Tak Jarang Curi Perhatian

Era otomotif seperti saat ini tak lantas menyurutkan kalangan bawah untuk menyalurkan hobi. Seperti yang kini dijalani komunitas sepeda antik. Hanya butuh inspirasi dan kreativitas, tak jarang mereka berhasil mencuri perhatian. Bahkan itu bisa menjauhkan mereka dari pergaulan yang salah.

MOCH. CHARIRIS, Mojokerto

---

DItengah hiruk pikuknya lalu lintas Jalan Raya Jabon, Kecamatan Mojoanyar siang kemarin sekelompok pemuda yang mengendarai sepeda antik sempat mencuri perhatian. Bukan saja kalangan pengguna jalan, tapi sorotan masyarakat setempat pun tak lepas dari pandangan komunitas Chopper Bicycle yang melintas di depannya.

Chopper oleh kalangan pemuda itu biasa disebut dengan ceper dan panjang. Meski sempat menyita perhatian kalangan umum, tak ada sedikit pun wajah minder dari raut muka para pemuda yang rata-rata masih berusia belasan tahun itu. Belakangan mereka juga masih berstatus pelajar.

Padahal di usia ini, rata-rata sudah mulai gandrung dengan sepeda motor dengan alasan ingin tampil keren dan praktis. Namun, jangan salah menilai jika para pemuda itu berasal dari kelas ekonomi yang rendah. Rata-rata dari mereka juga memiliki motor dalam kehidupan sehari-hari.

Adu kreativitas adalah salah satu alasan mereka untuk membuat sepeda angin dengan model chopper ini. Semakin unik sepeda yang dipakai, semakin menambah gengsi.

Ali Mustofa, 23, salah satunya. Pemuda yang juga menjadi Ketua Timoer Chopper Custom Bicycle (TCCB) ini terbilang berasal dari kelurga dengan ekonomi yang berkecukupan. Namun, hari-harinya dihabiskan di atas sepeda chopper yang merupakan desainnya sendiri itu. Dengan panjang 2 meter lebih dan berbentuk ceper, sepedanya tampak keren.

Sejak awal tahun lalu, dia sudah mulai mendesain sepeda chopper bersama beberapa pemuda di desanya, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Ia butuh waktu selama empat bulan agar sepedanya itu siap dikendarai. ''Berasal dari nol. Kami membeli pipa lonjoran dan kemudian dibentuk hingga menjadi rangka utuh," papar Ali Mustofa.

Pemuda yang memiliki usaha counter hand phone dan pulsa ini mengaku, sudah ada 16 pemuda di desanya yang bergabung dalam komunitasnya. Semua berangkat dari keinginan membuat sesuatu yang beda. Dan yang lebih penting, komunitas ini dibentuk untuk meminimalisir kenakalan remaja.

''Kami menjauhi narkoba dan tindakan kriminalitas lainnya. Di sini kami hanya adu kreatif,'' katanya. Komunitas ini juga memiliki agenda rutin. Setiap hari Sabtu malam, mereka memajang sepeda masing-masing di depan Kantor Pemkot Mojokerto. Mingu paginya, mereka juga kongkow di alun-alun.

''Sambil berbagi pengalaman memodifikasi sepeda. Tak jarang kita ke warnet untuk sekadar melihat model sepeda chopper lainnya untuk bisa ditiru," ulasnya. Lantaran dalih adu kreativitas itu, tak jarang para anggota komunitas ini selalu merubah bentuk sepeda mereka.

Bahkan kata dia, dalam setiap bulan harus ada bentuk yang diubah. Selain menghilangkan rasa bosan, juga agar tampilan sepeda mereka lebih nyentrik. ''Awal membuat, rata-rata menghabiskan anggaran Rp 1 juta. Dan setiap bulan ada penambahan atau perubahan bentuk," kata Ali.

Eko Prasetyo, pemilik sepeda chopper lainnya mengulas, ada kegembiraan tersendiri jika sepeda yang dibuat itu tampil beda. Terpenting kata dia, modifikasi yang dibuat tidak boleh keluar dari konsep chopper. ''Sepedanya panjang, berikut rantainya. Bentuknya juga ceper. Untuk pengembangan, tergantung ide masing-masing,'' papar siswa kelas III SMK Raden Patah, Kota Mojokerto ini.

Semua anggota komunitas ini rata-rata memodifikasi di bengkel yang sama. Kebetulan, ayahnya memiliki bengkel las. Sehingga untuk memodifikasi, mereka tak terlalu banyak mengeluarkan uang. ''Uangnya, kita menyisihkan uang saku. Daripada dipakai untuk hal-hal yang negatif," katanya.

Dia juga meyakinkan, dengan model sepeda panjang dan ceper ini, pengendaranya dijamin bisa menikmati perjalanannya. Karena menurutnya, dengan rantai panjang, tak akan berat saat mengayuh. ''Awalnya memang sulit bagi yang belum terbiasa. Tapi setelah terbiasa, akan bisa menikmati santainya. Kami juga sering touring ke tempat-tempat wisata. Tak ada rasa capek," ujarnya. (yr)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman