Dampak Pembuangan Limbah Pabrik di Desa Perning, Jetis

20/03/10
Dampak Pembuangan Limbah Pabrik di Desa Perning, Jetis. Bau Menyengat, Warga Terpaksa Ngungsi di Balai Desa

Pembuangan limbah PT Alu Aksara Pratama (AAP) yang berada tak jauh dari pemukiman warga, membuat warga di Desa Perning, Kecamatan Jetis, Mojokerto tak betah. Mereka pun mengungsi karena tak kuat bau yang sangat menyengat.

IMRON ARLADO, Jetis

---

GERIMIS rintik-rintik membasahi aspal jalan Raya Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jumat (19/3) dini hari. Beberapa orang nampak menyingkap tikar yang semula dibeber di balai desa setempat. Mereka tak ingin lembaran tikar yang dibawanya itu basah dan membuat tak nyaman saat tubuh mereka hendak beristirahat.

Beberapa warga yang lain juga mengangkat anaknya yang sudah tertidur pulas ke tempat yang lebih aman. ''Diangkat ke tengah saja. Biar tidak kena cipratan air,'' tutur salah satu warga.

Ratusan orang ini bukanlah warga yang sedang tertimpa musibah banjir. Bukan pula menjadi korban gempa. Melainkan karena bau limbah yang sudah merambah hingga ke kamar tidur mereka. ''Kami sudah tidak betah dengan bau yang sangat menyengat itu,'' kata Ponidi, 45.

Saat tidur di balai desa, bapak berkumis tebal ini tak sendirian. Ia bersama isteri dan dua anaknya juga tidur di gedung yang terbuka itu. Sakit karena kedinginan tak pernah dipikirkan oleh Ponidi. Yang ada dalam pikirannya, hanya kesehatan masa depannya. ''Kalau sakit karena kedinginan, paling-paling hanya beberapa hari saja sudah sembuh. Tapi kalau bau limbah yang mengandung banyak bakteri, apa gak malah cepat mati?'' imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Jumain, 40. Ia harus memboyong isteri dan dua anaknya ke balai desa untuk tidur bersama-sama warga lain. Yang ia inginkan hanya udara yang segar dan tak menyesakkan dada. ''Mending tidur di sini saja, daripada di rumah tapi bau yang tidak sedap,'' terangnya.

Warga RT 23/RW 2 Dusun/Desa Perning, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini mengungsi di balai desa setempat dalam dua hari terakhir. Mereka tak kuat lantaran bau pembuangan limbah sebuah pabrik tepung PT Alu Aksara Pratama (APP) semakin menyesakkan dada.

Seperti diketahui, warga sudah puluhan kali melakukan aksi demontrasi melawan pembangunan pembuangan limbah di dekat pemukiman warga. Hasilnya, selalu mengecewakan. Menajemen perusahaan, selalu memberikan janji-janji tanpa bukti.

Yang lebih menjengkelkan warga lagi, dalam dua minggu terakhir, perusahaan yang bergerak di produksi tepung ini kembali menambah tiga penampungan limbah berukuran besar dari sebelumnya yang hanya berjumlah satu pembuangan itu.

Selain membangun penampungan limbah baru, perusahaan ini juga membangun pagar dari beton yang mempunyai ketinggian 2,15 meter yang mengelilingi penampungan limbah itu.

Akibat pembanguan itu, Senin (8/3) lalu ratusan warga dari RT 23/RW 2 yang berdampingan dengan penampungan limbah itu kembali berontak. Mereka mendatangi pabrik yang mempunyai ratusan karyawan itu dan akan menuntut ganti rugi dengan berbagai jenis kompensasi.

Tuntutan warga akibat pembuangan limbah itu agar pihak pabrik memberikan ganti rugi terhadap kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbah dari pabrik tersebut sebesar Rp 400 ribu setiap kepala keluarga. Tuntutan itu, dianggap layak karena warga telah dirugikan. (yr)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman