TROWULAN - Pengrajin kuningan di Trowulan Kabupaten Mojokerto masih optimis dapat bersaing di pasar Asia saat pasar bebas atau FTA kawasan ASEAN-Cina dibuka. Para Pengrajin mampu melawan gempuran produk impor Cina atau Negara Asia lain.
”Untuk produk art (seni) kami yakin tidak kalah kalau soal kualitas maupun harga,” kata Ketua Koperasi Komunitas Pengrajin Kuningan Ganesa, Kecamatan Trowulan, Supriyadi, Minggu (31/1).
Pasar lokal maupun internasional masih potensial untuk pengembangan sektor usaha seni kuningan, lanjutnya. Penikmat seni kuningan lebih memilih hasil produk lokal Indonesia, khususnya Trowulan karena masih memiliki nilai seni tinggi.
Buktinya, kata dia, pesanan dari Jerman, Belanda, Swedia, dan Amerika tidak berkurang. Beberapa pemilik display produk kerajinan kuningan di beberapa Negara mengatakan, produk Trowulan merupakan karya yang memiliki sentuhan tangan khas, dan memiliki karakter khas Indonesia.
Berbeda dengan produk seni kuningan asal China, India dan Thailand. Hasil produk kuningan mereka, tidak asli karena pembuatanya sudah memakai mesin. “Ini karya hand made. Sentuhan tangan menjadi hal yang penting dalam sebuah karya seni. Itulah yang membuat produk kami unggul,” kata dia.
Apalagi, dengan kualitas yang tak kalah unggul, produk seni kuningan Trowulan ditawarkan dengan harga sama mahal dengan produk negara lain. Hingga akhir bulan ini, impor produk kuningan masih stabil.
Pesanan produk seni dari Trowulan masih tetap tinggi. Di desa Bejijong saat ini terdapat 125 pengrajin. Satu pengrajin dalam satu bulan mampu memproduksi 200 karya. Produk diimpor setiap tiga bulan sekali. (tempo/cak)


0 komentar:
Poskan Komentar
Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !