Mojokerto.web.id - Proses distribusi program konversi minyak tanah (mitan) ke elpiji di Kecamatan Magersari masih menyisakan keluhan. Setelah sebelumnya sebanyak 18.943 warga sasaran menerima bantuan gratis, kini keluhan baru mulai datang. Salah satunya dari warga yang memiliki usaha kecil menengah (UKM).
Menyusul pihak Pertamina belum memberikan satu paket konversi yang semestinya menjadi hak mereka. Akibatnya, usaha mereka yang mengandalkan bahan bakar minyak tanah terancam mengalami kerugian. "Kalau untuk elpiji rumahan kami sudah menerima. Tapi bagaimana dengan bahan bakar bagi usaha kami," ungkap Yudi salah satu pedagang gorengan asal Magersari.
Ketakutan warga yang memiki UKM ini memang cukup realistis. Menyusul sebelumnya Pertamina sendiri menyatakan bakal menarik subsidi mitan pada bulan Maret setelah proses distribusi konversi wilayah Kecamatan Magersari dinyatakan tuntas. "Sekarang kita masih bisa mendapatkan mitan dengan harga Rp 2.850 per liter walau itu harus antre. Tapi sampai kapan kita harus menunggu elpiji untuk usaha kami," terangnya.
Hal senada juga disampaikan pemilik warung kopi Hadi warga Wates. Menurutnya, sampai saat ini dia memang belum mendapatkan bantuan konversi yang digunakan untuk menjalankan roda usahanya. Meski masih mengandalkan mitan dalam proses penjualan, melainkan hal itu disadari tidak berlangsung lama. "Kalau pendataan sih sudah dan itu jauh sebelum kami mendapat satu elpiji untuk rumah tangga. Tapi untuk warung ini belum ada sampai sekarang," tukasnya.
Memang, kalangan pedagang makanan dari bentuk warung makanan hingga penjual gorengan masih banyak yang mengandalkan mitan sebagai bahan bakar. Mitan tersebut selama ini didapat dari pengkalan yang masih diberi jatah jual dari agen dan Pertamina. Tetapi untuk menghindari meningkatnya operasional penjualan, mereka berharap paket konversi khusus UKM segera direalisasikan. Sebab, jika tidak mereka usaha yang dilakoni terancam macet seiring rencana Pertamina yang menarik Subdisi mitan pada Maret mendatang. "Harapan kami seperti itu. Karena sekarang bahan-bahan pokok semua pada naik," tambahnya.
Seperti yang diketahui sebelumnya jumlah UKM di kecamatan Magersari dari total 10 kelurahan diketahui mencapai 2.500 UKM. Selain warung dan penjual gorengan, UKM yang ada jenisnya culup bervariatif. Semisal pedagang bakso, penjual nasi goreng dan penjual jajanan goreng keliling.
Camat Magersari Achmad Zainuddin mengungkapkan, memang paket konversi khusus untuk UKM sejauh ini belum didistribusikan Pertamina melalui surveyor Petrogas Jatim Utama (PJU). Sebaliknya, dari hasil pendataan sementara pihaknya sudah mengusulkan 2.500 peket elpiji kepada Pertamina. "Tapi sekali lagi kami belum mendapat jawaban. Kapan pastinya bisa terealisasi," tukas mantan Lurah Kranggan itu.
Namun, seiring menuggu kepastian dari Pertamina, saat ini pihak kecamatan dan kelurahan terus melakukan kordinasi guna menentukan ketepatan sasaran. Sebab lanjut Zainuddin, angka 2.500 tersebut harus kembali di lakukan verifikasi atas kelayakan sasaran. "Tujuannya jangan sampai nanti menimbulkan masalah dibelakang. Makanya kami juga akan menyosialisasikan pada warga syarat UKM apa saja yang berhak mendapat bantuan konversi," paparnya. Kendati demikian, sembari menunggu kepastian dari Pertamina, dia meminta warga yang memiliki usaha lebih bersabar. "Tapi yang jelas kita tetap menanyakan dan terus mendorong agar itu segera direalisasikan sebelum subsidi mitan dicabut," tandasnya. (ris/nk) (jawapos)





0 komentar:
Poskan Komentar
Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !