Mojokerto.web.id - DBD, Bocah MI Ngoro Meninggal. Korban meninggal akibat serangan nyamuk aides aigepty penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Mojokerto bertambah. Setelah Yuniar Dian Ananda Riza, bocah berusia 10 tahun asal Klampisan, Desa Medali, Kecamatan Puri, Sabtu (23/1) Anisfatul Aini, 8, warga Sedati, Kecamatan Ngoro meninggal.
Kendati sejauh ini Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat belum bisa memastikan, namun pihak keluarga menyatakan bocah kelas II MI Ainul Ulum Sedati itu meninggal karena serangan DBD. Pernyataan tersebut sesuai keterangan dokter yang merawat. ''Anak saya sudah dinyatakan demam berdarah. Trombositnya terus menurun,'' ungkap Satukan, ayah korban ditemui di rumahnya usai pemakaman anak ketiganya hasil pernikahannya dengan Nur Fatimah.
Sembari memegangi foto anak tercintanya, Satukan mengatakan, Anis kali pertama mengalami panas pada Senin (18/1). Anis yang kala itu tetap masuk sekolah, akhirnya dipulangkan. Mengetahui kondisi anaknya, siang harinya diperiksakan ke RS Mawaddah, Ngoro. ''Namun, rawat jalan,'' katanya.
Selain ke RS Mawaddah, Satukan mengaku sempat memeriksakan anaknya ke laboratorium Gajah Mada. Hasilnya, trombosit Anis 147 ribu. Periksa laboratorium yang dilakukan hari Rabu (20/1) diulangi lagi hari berikutnya, Kamis (21/1). ''Trombositnya turun menjadi 107 (107 ribu),'' ungkapnya.
Sore harinya, dia sempat membawa ke seorang dokter di Mojosari. Karena tetap tidak ada perubahan, suhu badan Anis masih panas, Jumat (22/1) pukul 01.00 langsung dilarikan ke RS Mawaddah. ''Selanjutnya diperiksa dokter spesialis. Dan, dinyatakan DBD. Jumat siang dirujuk ke Surabaya (RSU dr Soetomo),'' katanya.
Meskipun sudah mendapat penanganan medis, Anis tidak bisa diselamatkan. Sabtu (23/1) sekitar pukul 20.15, bocah tersebut meninggal. Informasi dari pihak keluarga yang sempat menanyakan ke dokter, trombositnya tinggal 80 ribu. ''Katanya, DBD itu bermacam-macam. Dan, yang menyerang anak saya itu termasuk ganas. Trombositnya cepat berkurang,'' ujarnya.
Terhadap meninggalnya Anisfatul Aini, Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto, Tatid M Ali mengatakan, masih akan mengecek ke RSU dr Soetomo. Memang, pihak keluarga tidak membawa pulang hasil laboratoriumnya. ''Besok (hari ini) mau dilacak ke RS dr Soetomo. Pada surat kematiannya tidak disebutkan meninggal oleh DBD,'' katanya.
Pernyataan yang sama disampaikan Bidan Desa setempat, Lisa dan Kepala Puskesmas Ngoro, dr Wilis Puspita. Keduanya belum bisa memastikan DBD. ''Masih dilacak kronologisnya,'' ungkap Wilis.
Sementara itu, di Desa Sedati tercatat sudah lima orang yang terserang DBD. Semuanya dilaporkan ke bidan setempat. Kemarin, Dinkes setempat langsung melakukan fogging di rumah korban dan sekitarnya.
Sebagaimana diketahui, nyamuk aides aigepty sudah menyerang sebagian besar wilayah Kabupaten Mojokerto. Tercatat, dari 18 kecamatan, 16 diantaranya endemis. Sedangkan, dua kecamatan sejauh ini terbebas adalah Kecamatan Trawas dan Pacet. Diduga, karena keduanya merupakan daerah dingin.
Tak sekadar menyerang, nyamuk mematikan tersebut juga sudah menimbulkan korban meninggal. Sejak musim penghujan bulan Oktober 2009 hingga Januari 2010, tercatat tujuh penderita DBD meninggal. Antara lain warga Kecamatan Sooko, Bangsal, Ngoro dan Puri. Sedangkan, jumlah warga Kabupaten Mojokero yang terserang, sebanyak 108 orang. Para penderita itu menyebar di sejumlah kecamatan.
Sesuai catatan Dinkes, jumlah penderita pada bulan Oktober 2009 sebanyak 28 orang, bulan November 32 orang, bulan Desember 38 orang dan bulan Januari 2010 sebanyak 9 orang. Pada tahun 2009, DBD di Kabupaten Mojokerto dinyatakan kejadian luar biasa (KLB). Jumlah warga yang terserang DBD sebanyak 438 orang. Jumlah tersebut naik seratus persen dari tahun 2008 yang tercatat hanya 216 orang. (abi/yr) (jawapost.co.id)





0 komentar:
Poskan Komentar
Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !