Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?
Masyarakat Mojokerto Berhak Tahu Segala Informasi

Minggu, 15 November 2009

Seni Peninggalan Majapahit

Mojokerto.web.id - Seni Peninggalan Majapahit. Pameran Majapahit, Keseharian di Trowulan kemarin menampilkan atraksi seni. Khususnya kesenian khas Majapahit dari mulai Bantengan, Tari Golek Sedayung hingga Jatilan. Kesenian peninggalan Majapahit ini diharapkan menjadi ikon yang tak mati.

Selain kesenian juga digelar pelatihan meronce perhiasan, seni arca, dan pelatihan pemandu wisata. Pameran yang digelar dihadiri oleh siswa sekolah dari Mojokerto. Baik dari sekolah dasar, menengah pertama dan atas seolah tak henti-henti tiba mengunjungi pameran. Ini mungkin terkait dengan program pemerintah Kabupaten Mojokerto tentang kewajiban karya wisata bagi sekolah, yang dananya diambilkan dari sebagian dana BOS.

Sementara itu, dalam pameran yang digelar di Pusat Informasi Majapahit itu tampak sekali implikasi dari kejayaan Majapahit yang masih hidup di masyarakat. Seni pahat batu di Trowulan saat ini banyak dikuasai oleh masyarakat, kemahiran itu diperoleh dari turun temurun. Beberapa pemahat batu dan pembuat patung logam hadir memeragakan proses pembuatan karyanya.

Dengan menggunakan peralatan yang relatif sederhana, seperti palu dan pahat, lahir karya-karya yang tidak kalah indahnya dengan karya pemahat masa Majapahit. Pemahat masa kini juga dapat membuat arca-arca yang terinspirasi dari tokoh-tokoh atau dewa-dewa masa Majapahit.

Kerajinan patung dari logam turut yang ambil bagian dalam pameran, memperagakan proses pembuatan patung. Saat itu, proses pembuatan patung masuk pada proses penyambungan bahan patung yang terbuat dari malam (lilin). Proses itu untuk membuat cetakan untuk patung logam. Untuk menghasilkan sebuah karya. ''Butuh waktu sampai dua minggu,'' tutur Eri, pembuat patung logam.

Lanjut pria berusia 34 tahun asal Dusun Kedung Wulan Desa Bejijong Trowulan itu, patung yang ia buat, biasanya mengambil model dewa-dewa. Patung yang ia produksi berasal dari logam jenis kuningan dan emas. Mengenai ukuran, bisa dibuat dalam dua ukuran kecil dan besar. Kisaran harganya dari 50 ribu sampai 17 juta. Patung yang dibuat umumnya dipasarkan ke Bali.

Di sisi wilayah lain, dipamerkan analisis temuan eskavasi tim arkeolog. Beberapa meja yang menyajikan temuan eksavasi berupa produk terakota, keramik, dan benda-benda lain yang diketemukan di daerah tersebut. Dituturkan oleh seorang analis Riski, 35 tahun, temuan yang sedang dianalisis ini termasuk dalam eskavasi tahap ketiga. Tahap ini dimulai sejak 26 Oktober lalu.

Berbagai temuan terakota era Majapahit yang dianalisis, terdiri dari berbagai benda dan kondisi yang beraneka. Jambangan (tempat air), tembikar, piring, arca, yang dominan digunakan sebagai alat produksi. Produk terakota yang diketemukan dianalisis dengan prosedur yang sudah ditentukan. Untuk proses analisis ini, Riski, yang juga seorang arkeolog ini, pihak PIM mengerahkan 4 orang arkeolog, 3 orang asisten arkeolog, 1 orang tenaga input dan 10 orang tenaga lokal.

''Berbagai temuan itu menunjukkan bahwa lokasi ekskavasi adalah bekas pemukiman,'' kata Riski yang bertempat tinggal di Desa Bejijong tak jauh dari lokasi. Temuan yang diperoleh adalah alat produksi dan barang rumah tangga. Setelah dianalisis lebih lanjut, harapannya akan didapat penafsiran gambaran kehidupan masa lalu. (mg1/yr) (Jawapos.co.id 14/11/09)

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 

Berita Terbaru

Pengikut


Copyright by www.mojokerto.web.id Informasi | Seputar Mojokerto