Ema-Emi, Dua Siswi Peraih Juara Ketiga Lomba Artikel Tingkat Nasiona

10/11/09
Mojokerto.web.id - Ema-Emi, Dua Siswi Peraih Juara Ketiga Lomba Artikel Tingkat Nasiona. Mulanya Iseng, Berharap Jadi Penulis Novel Kondang

Beragam untuk mengaktualisasikan talenta yang ada pada diri sendiri. Seperti Ema dan Emi, dua siswi SMA Al-Multazam Desa Kepuh Anyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto yang membuktikan menunjukkan bakat menulis. Dari sekadar iseng, santriwati Ponpes Al-Multazam ini meraih juara ketiga lomba penulisan artikel tingkat nasional di Universitas Diponegoro Semarang beberapa waktu lalu.

MOCH. CHARIRIS, Mojokerto

WAKTU menunjukkan pukul 14.00. Sebuah rumah tua di Lingkungan Kedungkwali Gang 7 Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto siang kemarin mendadak menjadi jujugan dua siswi SMA Al-Multazam Desa Kepuh Anyar, Kecamatan Mojoanyar. Tidak biasa memang, Fatimatuzahroh, 17 alias Ema dan Emi Nur Cholidah, 16 berada di rumah peninggalan zaman belanda itu.

Selain masih harus mengikuti jam pelajaran di sekolah, keduanya sebenarnya tidak diperkenankan keluar dari lingkungan ponpes pada jam-jam kegiatan berlangsung. Akan tetapi di rumah yang menjadi tempat tinggal Dewi Maimunah sekaligus pengajar di SMA Al-Multazam itu, Ema dan Emi bukannya memanfaatkan untuk bermain atau bolos sekolah, tetapi mengikuti diskusi dan pendalaman materi beberapa pelajaran ilmu agama.

''Kita di sini juga lagi browsing literatur dan meteri beberapa artikel,'' ujar Ema, gadis asal Desa Ketapanrame Kecamatan Trawas ini. Kebiasan internetan rupanya bukan saja dilakoni Ema sendirian. Emi teman sekelasnya di SMA Al-Multazam rupanya juga memiliki hobi yang sama. ''Tapi internetan kita positif. Browsing artikel dan materi apapun yang penting bisa menambah pengetahuan kita,'' terang Emi, siswi asal Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko.

Yang membedakan antara keduanya, ketika sudah di depan komputer atau laptop yang dilengkapi perangkat jejaring internet, wifi atau modem internal adalah pemilihan materi browsing. Jika Ema selalu mengutamakan penambahan ilmu pendidikan, tapi Emi lebih suka materi yang berbau kebudayaan. ''Justru dengan perbedaan pengetahuan itu kita bisa saling tukar pendapat,'' jelas Emi sembari membaca sebuah kitab pelajaran sekolah.

Keaktifan mereka di depan media elektronik yang kian digemari kalangan awam, bukan tanpa alasan. Menjadi siswa sekaligus santri bagi mereka tidak cukup hanya mengandalkan pelajaran yang telah diberikan pihak sekolah dan pesantren. Hasilnya, pada pertengahan bulan Oktober lalu, keduanya menemui sebuah pengumuman lomba penulisan artikel antarsiswa SMA tingkat nasional yang digelar Kesemat Competision (KC) Fakultas Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Meski tak mengantongi basic ilmu kelautan, akan tetapi Ema-Emi nekat mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta. ''Waktu itu kita cuma iseng-iseng saja. Sebab, dalam waktu bersamaan kita juga ikutan olimpiade bahasa Inggris di UM Malang,'' kata Ema.

Namun, karena sudah terlanjur mendaftar dengan biaya hasil patungan sebesar Rp 50 ribu, dua siswi itu lantas membagi peran dalam menyusun artikel sebanyak 24 halaman. Untuk artikel berjudul Mangrove Is Natural Hentage atau hutan tembakau warisan budaya yang alami, Ema mendapat tugas menyusun pembukaan dan isi artikel. Sedangkan Emi kebagian menulis tujuan dan pembahasan. ''Karena kita tidak ada kemampuan tentang ilmu kelautan, dalam penulisan artikel ini kita perbanyak dari browsing untuk mencari materi pendukung,'' bebernya.

Ema menceritakan, karena keterbatasan berstatus santri, mulanya untuk sekadar mencari materi tambahan mereka mengalami kesulitan. Selain fasilitas internet di sekolah dan pesantren, mereka terpaksa minta izin keluar pesantren. ''Sehari paling satu jam. Dan itu berlangsung selama satu minggu sebelum pengumpulan artikel,'' katanya.

Dari waktu yang ada, pengumpulan penulisan artikel oleh panitia ditentukan pada 31 Oktober. Karenanya, dengan segala keterbatasan, mereka akhirnya memutuskan untuk mengirimkan ke panitia penyelenggara. Namun, tanpa diduga sebelumnya, beberapa hari kemudian, tepatnya 4 November lalu KC Fakultas Kelautan Undip menghubungi keduanya melalui nomor SMA Al-Multazam. ''Tidak menyangka sama sekali kami dinobatkan menjadi juara 3 tingkat nasional,'' tutur Ema yang juga aktif sebagai penulis di madia internal sekolah Warta Aulia (WA).

Atas izin dari pihak sekolah dan ponpes, setelah dinyatakan menjadi juara ketiga, mereka kembali patungan masing-masing Rp 150 ribu sebagai biaya transportasi penerimaan hadiah, Mojokerto-Semarang. Berupa sertifikat, trofi dan uang pembinaan sebesar Rp 500 ribu. ''Ya Alhamdulillah hasilnya bisa kita buat jajan sekolah," kenangnya.

Akan tetapi setelah mendapat penghargaan itu, Ema dan Emi mengaku tidak akan berhenti di situ. Utamanya dalam bidang penulisan. Berbekal kebiasan menulis di WA, Ema setelah lulus nanti lebih memilih menjadi seorang penulis novelis profesional. ''Karena dari dulu suka menulis, saya ingin jadi penulis novel. Utamanya mengandung bercerita human interest,'' tegasnya.

Lain halnya dengan Emi. Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Khusaini dan Iswahyuningsih belum memandang lebih jauh. Dia mengatakan akan lebih mendalami pengatahuan kebudayaan yang didapatnya selama ini. ''Sekarang sih masih iseng-iseng saja. Ndak tahu kalau nanti. Yang penting jalani dulu apa yang ada (di sekolah dan pesantren, Red),'' tandas siswi yang juga menjadi pengurus harian WA ini. (yr) http://jawapos.co.id/ (10/11/09)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



1 komentar:

Anonim mengatakan...

ini websitenya al-multazam, http://www.al-multazam.org

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman