Santriloka Punya 700 Pengikut

29/10/09
Mojokerto Web - VCD aliran sesat yang bersumber dari kelompok yang menamai dirinya ilmu kalam Santriloka ternyata sudah beredar cukup lama. Bahkan kelompok ini sudah tersebar di tiga tempat berbeda. Di Kota Mojokerto, perguruan Santriloka yang didirikan oleh Anwar alias Achmad Nafan alias Mbah Aan berlokasi di Kelurahan Kranggan Gang 6 No 6 Kecamatan Prajurit Kulon. Selain itu juga ada di Perumahan Meri, Kelurahan Meri dan Jalan Empunala Kecamatan Magersari.

Di rumah Kelurahan Gang 6 No 6 Kelurahan Kranggan, pendiri Santriloka yang kini mempunyai 700 jamaah, Mbah Aan tinggal bersama istri dan empat anaknya. Sejauh ini, tokoh dalam berperan dalam VCD yang sudah beredar ke sebagian masyarakat, sebagai sosok pimpinan kelompok dan menyampaikan pidato layaknya seorang kiai adalah sosok Mbah Aan sendiri.

Pria yang berasal dari Jalan Kusuma Bangsa VI RT 02 RW 01 Desa Sengon Kecamatan/Kabupaten Jombang tersebut sekaligus sebagai orang yang memerintahkan penganutnya agar menggandakan dan menyebarkan kepingan VCD tersebut.

Di temui di rumahnya, Mbah Aan tak tampak sedikit pun menunjukkan sikap terkejut. Justru, di rumahnya yang terpasang spanduk bertuliskan selamat datang keluarga besar Santriloka itu, mempersilakan Darmo untuk menanyakan beberapa bagian aliran yang disampaikan dalam kepingan VCD.

Diantaranya menyangkut syarat-syarat seseorang menjadi Islam menurut ilmu yang dijalaninya. Dia menolak, jika aliran Santriloka yang sudah tersebar di sebagian wilayah Indonesia itu dinilainya menjurus pada kesesatan. Dia mencontohkan beberapa ajarannya. Semisal, saat masuk Islam orang hanya menggunakan bunga tanpa mengucapkan syahadat.

Sebab, dari empat syarat prinsip sebagai dasar orang masuk Islam juga disebutkan harus mengucapkan syahadat. ''Tapi syahadat di sini mempunyai makna Syah dan Dzat. Berarti kudu diucap dulu lalu dimaknai dan dilakukan," katanya di ruang mediasi khusus miliknya yang terkesan aneh. Dilengkapi bunga-bunga, dupa dan barang-barang antik yang biasa digunakan pengikut ajaran tertentu.

Syarat kedua mengikuti alirannya, kata Mbah Aan, tidak diwajibkan pengikutnya menjalankan salat seperti umumnya umat Islam. Sebab, salat tersebut dianggapnya tak lebih dari sebuah istilah dan kata.

Sementara itu, syarat ketiga masuk Islam, Mbah Aan mengaku, dalam aliran yang dijalaninya tidak ada istilah umat Islam wajib menjalankan ibadah puasa Ramadan. Sebab, dalam bahasa Jawa, Ramadan dimaknai sebagai roh wadon atau sebelum dilahirkan manusia hidup di alam ruhnya kaum perempuan selama sembilan bulan. ''Dari hitungan itu maka puasa yang harus dijalani adalah puasa pada bulan Jawa ke-11 (Selo). Sedangkan kalau yang diperintahkan selama ini itu salah. Sebab, dalam puasa batin atau lahir adalah untuk roh-madon ibu. Bukan yang lainnya,'' bebernya.

Terakhir, setelah tiga syarat menjadi Islam tersebut sudah dijalani, keempat lanjut Mbah Aan adalah tetap melaksanakan amal zakat. Akan tetapi cara zakat fitrah (pangan) yang dilakoni Santriloka, tidak sama seperti yang diajarkan dalam syariat Islam. ''Keluarkan pada waktu sebelum puasa. Yakni puasa di bulan Selo," imbuhnya.

Tak hanya membeber ajarannya, Mbah Aan juga menyebut ajaran yang tertulis dalam kalimat Alquran sebagian besar dinilainya ada yang salah. Selain dipandangnya telah dibuat oleh orang Arab, dari 30 juz, hanya empat surat yang mesti dilakukan.

Diantaranya, surat Al-Fatihah, Surat Annas, Surat Al-Falaq dan Surat Al-Ikhlas. ''Kalau sebagian isi surat dalam Alquran lainnya itu sudah dimodifikasi," ujarnya.

Sejauh ini menurutnya, jamaah Santriloka sebanyak 700 orang tersebut sudah tersebar di beberapa daerah dan Provinsi. Diantaranya, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Sulawesi dan beberapa daerah di Jawa Timur. Seperti Jombang, Kediri, Tulungagung, Lamongan, Surabaya Blitar dan Mojokerto sendiri.

MUI belum bersikap

Sementara itu, menanggapi menyebarnya tiga kepingan VCD meresahkan dan adanya kelompok atau perguruan ilmu kalam Santriloka di Kota Mojokerto sejauh ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mojokerto belum menyatakan sikapnya. Menyusul, kalangan pengurus maupun kyai yang tergabung dalam MUI lebuh dulu akan melakukan telaah dan pembahasaan.

Dikatakan Ketua MUI Kota Mojokerto, KH. Muthoharun Afif, keputusan MUI yang belum menentukan sikap untuk menanggapi beredarnya VCD dan keberadaan perguruan ilmu Kalam Santriloka menyusul akan mempertimbankan beberapa hal. Diantaranya, meski mengaku sudah membaca dan melihat rekaman dalam VCD tersebut, namun MUI tak lantas gegabah untuk mengeluarkan kebijakan. Atau fatwa bagi masyarakat muslim. "sampai saat ini kita belum bersikap. Tapi yang jelas, anggota kita sudah membaca dan melihat isi dari VCD itu," katanya.

Disamping merapatkan barisan, MUI kata pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kelurahan Mentikan itu, berencana akan memanggil pendiri sekaligus pimpinan Santriloka, Mbah Aan. Sebab, dengan begitu, selain mempelajari ilmu atau keyinan yang dianggap menyimpang, MUI bisa langsung mengkroscek Mbah Aan. "MUI juga perlu kalrifikasi. Bagaimana ajaran dan ilmu yang dijalani. Sebab, itu kami anggap sangat perlu," tegasnya. (ris/yr)
(http://jawapos.co.id/ 29/10/09)
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



1 komentar:

Anonim mengatakan...

bagaimana mbah aan mendapatkan ilmu dan keyakinannya tersebut?!

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman