Aktivitas Santriloka Ditutup

31/10/09
Mojokerto Web - Kontroversi aliran ilmu kalam Santriloka di Kota Mojokerto mengundang reaksi masyarakat sekitar. Kamis (29/10) warga ramai-ramai mendatangi kediaman Mbah Aan, pemimpin perguruan Santriloka di Kranggan Gang V, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Prajurit Kulon.

Khawatir anarkis, petugas kepolisian dan kelurahan akhirnya menutup kegiatan Santriloka malam itu juga. Bahkan Mbah Aan langsung diaman ke Mapolresta Mojokerto. Namun, pria asal Jombang itu tenang-tenang saja ketika kegiatannya ditutup. Dia bahkan beberapa kali melempar senyum kepada warga yang meneriakinya.

Ratusan warga itu mendatangi kediaman Mbah Aan bersamaan dengan acara live Mbah Aan di salah satu stasiun televisi. Awalnya, warga bergantian mengintip lewat jendela dan kaca. Tetapi setelah program live yang juga disaksikan puluhan santri Mbah Aan dirumahnya tersebut tuntas, warga beranjak pulang.

Dengan penjagaan ketat petugas kepolisian, baik berpakaian preman maupun berseragam mereka malah memilih berada di sekitar rumah Mbah. Sebaliknya, di dalam rumah yang berstatus kontrak saat itu juga kalangan santri Mbah Aan dengan setia mendampingi.

Namun, beberapa jam kemudian, petugas yang berpakaian sipil dan beberapa perwira Polresta Mojokerto diantaranya Kapolsek Prajurit Kulon AKP Luwi Nur Wibowo, Kasat Reskrim Polresta I Gede Suartika, Kasat Intel AKP Choirul Anam beberapa kali keluar masuk rumah Mbah Aan, suasana sedikit berubah.

Warga mulai mendesak petugas yang didampingi pihak kelurahan dan tokoh masyarakat (tomas) untuk segera menurunkan spanduk dan umbul-umbul bertuliskan Santriloka. Kontan umbul-umbul warana kuning yang berdiri di pagar rumah serta spanduk di teras rumah langsung diturunkan sendiri oleh beberapa santri Mbah Aan.

Namun, tepat pukul 22.00, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Lurah Kranggan Acim Dartasim dan Kapolsek Prajurit Kulon AKP Luwi Nur Wibowo, beberapa kali meredam agar warga tidak bertindak lebih. ''Warga kami harap tenang. Kalau ingin spanduk dan umbul-umbul diturunkan biar pihak sini (Santriloka, Red) yang menurunkan," kata Acim.

Bukan hanya menenangkan warga, Acim yang selalu berada di depan pintu gerbang rumah, juga menjelaskan, bahwa terhitung sejak malam itu kegiatan Santriloka dihentikan. ''Mulai malam ini (Kamis, Red) kegiatan Santriloka tidak ada lagi. Jadi warga tidak perlu resah," terangnya sembari menjelaskan pada warga yang hadir.

Pernyataan Acim untuk menghentikan kegiatan dan aktivitas Mbah Aan dan pengikutnya diduga lantaran sebelum memang sudah diputuskan melalui koordinasi dengan beberapa pihak. Yakni Polresta, perwakilan MUI dan PCNU, Kejaksaan Negeri (Kejari) dan beberapa tokoh masyarakat.

Terbukti setelah Acim menenangkan warga, Kapolresta AKBP Sulistriandri Atmoko lantas memasuki rumah Mbah Aan bersama beberapa tomas. ''Permintaan warga rumah ini dikosongkan. Warga malu!'' teriak seorang bertubuh subur yang biasa dipanggil Gendut.

Meski di dalam rumah sempat terjadi dialogis yang tidak diketahui isi pembicaraanya, namun tidak lama kemudian Sulistiandri Atmoko keluar dari dalam rumah bersama Mbah Aan. Akan tetapi, Mbah Aan yang sedang mengenakan jaket gelap dan celana warna merah, tidak tampak sedikit pun panik.

Bahkan, sambil menuju mobil petugas yang sudah diparkir depan rumah, pria asal Jombang itu sempat melempar senyum pada warga. Tidak lama kemudian mobil Kijang berwarna silver tersebut meluncur keluar menuju Polresta Mojokerto membawa Mbah Aan.

Acim mengungkapkan, memang terhitung sejak malam itu, Mbah Aan tidak lagi melaksanakan aktivitas keilmuan yang dianutnya. Baik yang bersifat mengundang masa maupun kegiatan pribadi didalam rumah.

Dia mengatakan, penutupan yang dimaksud Acim adalah, sebatas menyangkut aktivitas Mbah Aan di Lingkungan Kranggan V Kelurahan Kranggan. Hal itu didasari, selama ini keberadaan dia yang tinggal di rumah kontrakan milik Agus sejak dua tahun lalu tidak pernah melaporkan statusnya. Baik tempat tinggal, kependudukan maupun aktivitas ilmu kalam Santriloka. ''Tujuan kita hanya sebatas meredam warga agar tidak terjadi apa-apa pada yang bersangkutan,'' jelasnya.

Mengenai status rumah, Acim menambahkan, Agus pemilik rumah sudah mengembalikan uang perpanjangan kontrak selama dua bulan. Sebaliknya, atas pengembalian uang kontrak itu, Mbah Aan jelas Acim mengaku tidak keberatan dan justru mengindahkan imbaun petugas dan pihak kelurahan. ''Untuk proses selanjutnya kami kembalikan pada pihak-pihak yang terkait. Namun yang jelas Mbah Aan dan aktvitas Santriloka tidak ada lagi di sini (Kranggan, Red)," ujarnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, jumlah jamaah ilmu kalam Santriloka sebanyak 700 orang tersebut sudah tersebar di beberapa daerah dan provinsi. Diantaranya, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Sulawesi dan beberapa daerah di Jawa Timur. Seperti Jombang, Kediri, Tulungagung, Lamongan, Surabaya Blitar dan Mojokerto sendiri. Bahkan di kota Onde-onde, Santriloka diikuti oleh sekitar 200 orang. Selain di Kranggan Gang V, kegiatan Santriloka juga tersebar di Kelurahan Meri dan Jalan Empunala Kota Mojokerto. (ris/yr)

(Jawapos.co.id, 31/10/09)

Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman