Munari, Perajin Produk Olahan Ketela Rambat

19/04/09
Sebuah show room aneka produk olahan berbahan ketela tersaji di bagian depan rumah bapak seorang anak tersebut. Ruang seluas 4 meter x 6 meter tersebut terasa sesak dengan sejumlah rak berisi aneka jenis snack. Utamanya keripik berbahan baku ketela.


Meski aneka jenis keripik lainnya juga tersaji di show room tersebut. Mulai keripik gadung, bayam, pisang hingga berbagai macam ubi jalar dan polo pendem lainnya. ''Semuanya buatan sendiri,'' terang pria yang sehari-hari mendiami sebuah rumah di pinggiran sungai di Desa Kemiri Kecamatan Pacet yang sekaligus menjadi rumah produksinya.

Sayangnya letak rumahnya tidak berada tepat di sisi jalan raya. Tetapi masuk ke sebuah gang sekitar 500 meter. ''Ya, nanti kalau sudah punya tambahan modal buat show room pinggir jalan,'' ucapnya enteng.

Baginya, keberadaan showroom tersebut nampaknya memang bukan hal utama untuk mendongkrak pemasaran produknya. ''Karena ini hanya untuk contoh, untuk pemasaran produk kita sudah punya tim sendiri,'' terangnya. Sehingga meski pengguna jalan tidak dapat melihat langsung keberadaan show room-nya, hal itu bukan masalah baginya. Karena dia tidak terlalu membidik pangsa pasar individu dari pengguna jalan.

''Kita lebih banyak pasarkan produk ke tempat-tempat wisata,'' katanya. Mulai dari Pacet, Batu, Malang, Lamongan, Surabaya dan sejumlah tempat wisata lain. ''Kita punya orang di setiap lokasi yang mendistribusikan produk ke warung-warung atau rumah makan yang ada disitu,'' terangnya. Sengaja dia memilih konsentrasi memasarkan ke tempat wisata karena perputaran modal jauh lebih cepat. Lantaran pengunjung yang selalu datang dan berganti tiap hari. ''Untuk toko sementara kita nomor duakan,'' ujarnya.

Saat ini, kapasitas produksinya sudah sangat banyak. ''Bahan baku ketela yang kita gunakan tiap hari mencapai satu ton,'' ungkapnya.

Tak heran jika omset perbulan usahanya mencapai 125 juta. Dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 39 orang. ''Padahal dulu mulainya cuma dengan modal Rp 20 ribu,'' ungkapnya.

Selepas SD, dirinya langsung berusaha mencari kerja karena tidak dapat melanjutkan sekolah. Dia pun sempat melalang buana keberbagai tempat termasuk ke luar pulau. Meski hasilnya tetap kurang memuaskan. ''Karena hanya lulusan SD, kerja dimanapun sulit,'' terang pria kelahiran 9 September 1972 ini.

Beruntung saat dia pulang dari Sumatera tahun 2000, ada undangan dari Dinas Pertanian untuk mengikuti pelatihan pembuatan keripik ketela bagi kelompok tani. ''Karena tidak ada yang mau berangkat, akhirnya saya tekadkan berangkat,'' ceritanya.

Di situ dirinya diajari membuat anek produk berbahan ketela. Termasuk keripik ketela. ''Usai pelatihan saya tekadkan mulai mencoba, karena saya tidak akan pernah bisa kalau tidak mencoba. Saya yakinkan diri sendiri harus dan pasti bisa. Seperti yang ditekankan dalam pelatihan.''

Dia pun mulai dengan uang Rp 20 ribu yang ada di tangan untuk beli bahan baku ketela. Semua aktivitas dia jalani sendiri karena memang masih bujang. Mulai mencari kayu bakar di hutan, mengupas ketela hingga merajang, menggoreng, mengemas dan mengantarkannya dari satu warung ke warung yang lain. ''Karena tidak punya motor ya terpaksa jalan kaki.''

Kian lama produksinya semakin banyak. Karena kian bertambahnya warung yang minta dikirimi keripik ketela. Sehingga dia kian mampu mengembangkan usahanya. Terlebih setelah beberapa kali dirinya sempat mendapatkan bantuan modal dari pemerintah. ''Di Desa Kemiri ada beberapa perajin keripik ketela yang menjadi binaan kita, tapi yang paling besar memang Munari,'' kata Yahdi, ketua kelompok tani Rukun Makmur Desa Kemiri.

dikutip dari radar
Bookmark and Share

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Poskan Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Untuk Berita Mojokerto Di Atas. Terima Kasih !

 
 
 

Arsip

 
Copyright © Mojokerto.web.id Oleh Cak Rohman